Jumat, 19 September 2014

Perjuangan Menahan Pup

Begitu membaca judul tulisan ini, walaupun sudah tau maksudnya mungkin banyak di antara kita yang masih terbesit di pikirannya pertanyaan "apa sih kepanjangan pup?". Terus terang saya sendiri ketika memulai membuat tulisan ini belum tau "pup" itu kepanjangan dari apa atau mungkin juga bukan singkatan melainkan suatu kata yang pengambilannya didasarkan pada bunyinya, "puuuup". Hmmm.... kalo saya analisis sih ini bunyi berasal dari bokong seorang pemuda yang sedang numpang ee di rumah seorang komandan batalion TNI ketika dia melamar anak gadis pak komandan. Dasarnya suara ini menggelegar, tetapi karena di tahan-tahan maka bunyinya jadi seperti itu. "pup" mungkin juga sebuah potongan dari sebuah kata layaknya kita memanggil nama seseorang. Misalnya si Fulan yang sering dipanggil "lan". Tapi, sampai kalimat ini ditulis saya sih belum tahu "pup" itu potongan dari kata apa atau dari nama siapa. Baiklah, saya akan tanya Prof. Gugel dulu....

Ah... ternyata Prof. Gugel gak pinter-pinter amat. Informasi yang dia punya itu bukan hasil pemikiran dia, tetapi pikiran para penduduk dunia maya. Si Gugel cuman pinter ngumpulin tulisan-tulisan mereka. Setelah saya cari di pikiran Gugel saya tidak menemukan informasi yang pas dan memuaskan. Oke lah, tidak usah dipikirkan lagi dari mana kata "pup" berasal. Yang penting kita semua mengerti apa yang dimaksud "pup". Kita lanjut saya ke cerita tentang perjuangan saya menahan pup. Begini ceritanya......


**
Bogor, suatu pagi di tahun 2014 (tgl dan bulannya gak inget)
Pagi-pagi udah dibikin kesal sama supir angkot 32 yang protes karena ongkos yang gw kasih katanya kurang. Gw kesel bukan karena soal duitnya, tapi caranya dia minta itu yang bikin emosi jiwa membuncah. Ditambah lagi suaranya yang serak-serak khas penjahat bikin kesabaran gw terkuras banyak. Padahal sehari sebelumnya juga udah berkurang gegara harus berdiri di KRL sambil manggul tas seberat 7 kg selama sekitar 20 menit. Dipanggul lho ya... bukan digendong. Kerasa bener pegelnya. Untunglah malamnya gw sempat sholat tahajjud (jarang-jarang nih... :D) sehingga kesabaran gw yg udah lowbat dicas lagi jadi bisa nahan hasrat ingin nabok si supir angkot katro.

Tujuan gw saat itu adalah ke perumahan pabaton. Sesuai petunjuk teman, perjalanan gw lanjutkan dg angkot 08. Karena belum tau, gw pun berpesan ke pak supir supaya diturunin di pabaton. "Pabaton ya mang..." pesan gw. Beberapa saat kemudian sampai lah gw di kampung Pabaton dekat pasar anyar. Tapi.... ternyata eh ternyata salah. Kampung Pabaton beda dg Perumahan Pabaton. "fiuuh..!!". Kalo nama sama biasanya lokasinya berdekatan. Pikir gw.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar